Oleh: endalatersia | Februari 25, 2011

PEMANFAATAN DATA LEGER JALAN SEBAGAI SALAH SATU UNSUR DALAM PEMELIHARAAN JALAN

Landasan Hukum

Salah satu dokumen jalan menurut PP 34/2006 adalah leger jalan, yaitu dokumen yang memuat data mengenai perkembangan suatu ruas jalan. Dalam rangka memenuhi tertib penyelenggaraan jalan maka Direktorat Jenderal Bina Marga sebagai penyelenggara jalan memiliki kewajiban untuk melaksanakan kegiatan dimaksud. Kegiatan leger jalan selanjutnya, dituangkan dalam Peraturan Meneteri Pekerjaan Umum No. 78 tahun 2005. Di dalam Permen diuraikan bahwa sasaran yang akan dicapai dari kegiatan leger jalan adalah untuk:

  1. Mengetahui perkembangan suatu ruas jalan yang mencakup aspek hukum, teknis, pembiayaan, bangunan pelengkap, perlengkapan jalan, bangunan utilitas dan pemanfaatannya.
  2. Melaksanakan tertib penyelenggaraan jalan dengan mewujudkan dokumen yang lengkap, akurat, mutakhir dan mudah diperoleh.
  3. Mengetahui kekayaan negara, orang atau instansi atas jalan yang meliputi kuantitas, kondisi dan bilai yang diperoleh dari biaya desain, pembangunan dan pemeliharaan.
  4. Sumber informasi dalam menyusun rencana dan program penyelenggaraan jalan dan melaksanakan tertib pemanfaatan, pemeliharaan dan pengawasan jalan.

Dari peraturan di atas, maka leger jalan analogi dengan sertifikat tanah. Layaknya sertifikat tanah maka jika terjadi perubahan di atas jalan tersebut harus dicatatkan di leger jalan. Perubahan yang mungkin terjadi seperti berubahnya batas ruang milik jalan dengan pemukiman, pelebaran jalan, penambahan bangunan pelengkap, perubahan KM 0 dan KM akhir harus diukur, digambar, dan dicatat di leger jalan selanjutnya diperiksa dan disetujui oleh pejabat yang berwenang. Leger jalan sebagai dokumen sejarah jalan dipelihara sejak suatu ruas jalan dibangun, dan selama jalan tersebut digunakan. Jika pencatatan dokumen yang lengkap, dan akurat berjalan secara kontinyu maka tertib penyelenggaraan jalan  akan terwujud, dan leger jalan bisa menjadi acuan solusi atas permasalahan yang muncul di lapangan seperti yang terjadi pada kasus jalan RE. Martadinata yang amblas. Kenyataannya, leger jalan RE. Martadinata tidak mencatat data yang lengkap sehingga leger jalan belum bisa dijadikan solusi atas amblasnya jalan tersebut.

Leger adalah Representasi Jalan yang Ada

Pada dasarnya leger jalan adalah representasi dari dunia nyata dalam hal ini jalan raya ke dalam bentuk suatu peta dan gambar yang disertai dengan ukuran dan data-data atribut. Peta,yang terdapat di data leger adalah peta provinsi dan peta lokasi ruas jalan yang dilegerkan. Gambar yang terdapat di data leger adalah gambar situasi dan potongan, alinyemen vertikal dan memanjang. Gambar dan peta ini akan selalu terkait dengan sistem yang mendefinisikan, dan di Indonesia sistem yang telah diberlakukan secara nasional yaitu sistem datum WGS 1984, sistem proyeksi Universal Transverse Mercator (UTM), sedangkan sistem tinggi adalah hasil pengukuran sipat datar terhadap muka laut rata-rata (Mean Sea Level= MSL).

Karena peta dan gambar leger jalan didefinisikan dalam sistem koordinat, maka tampilan data lebih baik disimpan dalam bentuk vektor. Representasi data vektor memungkinkan semua posisi, panjang, dan dimensi didefinisikan secara presisi (Prahasta, 2002). Jika data leger disimpan dalam bentuk vektor maka manipulasi data bisa lebih maksimal sehingga leger jalan bisa dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan di bidang jalan. Contoh sederhana adalah dalam pelebaran jalan jika leger yang tersedia lengkap dan akurat maka pihak perencana cukup mengedit peta dan gambar yang sudah tersedia di leger jalan.

Kondisi Leger Jalan Saat ini

Jauh sebelum Permen PU No. 78/2005 dilegalkan, kegiatan leger jalan sudah berlangsung sejak tahun 1984. Hasil kegiatan tersebut adalah sudah tersedia 57% leger jalan nasional dari total panjang jalan nasional.

Dari 57% leger yang tersedia, hanya 15% leger berumur terbaru dalam kisaran tahun 2006 sampai dengan 2010 dan sisanya yaitu 85% sudah kadaluwarsa atau berumur lebih dari enam (6) tahun. Dari 85% leger jalan atau yang sudah kadaluwarsa, sebagian besar masih dalam sistem koordinat lokal dan perlu dilakukan transformasi koordinat ke sistem UTM WGS 1984. Semua leger jalan tersedia dalam hardcopy dan disimpan di kantor Wahana Data Jalan Bandung. Leger hardcopy sangat rentan terhadap cuaca, suhu, dan kelembaban udara ruangan penyimpanan. Untuk menjaga leger hardcopy dari penyusutan kertas, kerusakan akibat jamur dan usia, maka dilakukan scanning leger hardcopy, dengan hasil adalah data raster leger jalan yang saat ini juga tersedia di Wahana Data Jalan Bandung. File data raster leger jalan yang tersedia adalah format Joint Photographic Experts Group (JPEG).

Data raster memiliki keterbatasan yaitu representasi dan akurasi posisi data raster sangat tergantung pada ukuran piksel atau resolusi spasial. Semakin tinggi resolusi spasial peta dan atau gambar leger hasil scanning maka semakin besar disk di komputer. Sehingga data raster leger jalan perlu ruang penyimpanan (disk) yang besar di komputer. Selain itu, transformasi koordinat dan proyeksi lebih sulit dilakukan. Padahal data-data leger jalan sebagian besar ada dalam sistem koordinat lokal yang harus dilakukan transformasi koordinat dan proyeksi. Ilustrasi sederhana mengenai perbedaan data raster dan data vektor.

Saran Memberdayakan Data Leger Jalan

Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa sasaran kegiatan leger jalan salah satunya adalah  tertib penyelenggaraan jalan dengan mewujudkan dokumen yang lengkap, akurat, mutakhir dan mudah diperoleh. Secara sederhana maka dokumen leger jalan harus:

  1. Lengkap artinya semua jalan di Indonesia harus memiliki leger jalan. Bukan hanya jalan nasional tetapi juga jalan propinsi, jalan kabupaten, jalan kota, dan jalan desa harus memiliki leger jalan.
  2. Akurat artinya peta,dan gambar yang ada di leger jalan bentuk dan dimensinya benar, begitu pula halnya dengan data atribut seperti data bangunan pelengkap, perlengkapan jalan dan utilitas lainnya.
  3. Mutakhir artinya setiap perubahan yang terjadi pada ruas ruas jalan dicatatkan pada leger jalan secara kontinyu sejak suatu ruas jalan dibangun, dan selama jalan tersebut digunakan.
  4. Mudah artinya leger jalan bisa diakses oleh semua unit kerja yang membutuhkan data jalan.

Menindaklanjuti sasaran dan menyadari kondisi leger jalan saat ini, maka perlu dilakukan terobosan-terobosan oleh Subbag Leger Jalan dalam memberdayakan leger jalan yang sudah ada. Adapun hal-hal perlu dilakukan adalah:

 

  1. As Built Drawing (gambar terlaksana) merupakan cikal bakal leger jalan. Jika ABD suatu ruas jalan sudah ada maka pembuatan leger jalan lebih efisien dan efektif daripada pembuatan leger yang tidak ada ABD. ABD wajib diserahkan oleh kontraktor kepada masing-masing satuan kerja yang membidangi proyek jalan proyek-proyek fisik. Namun pemberdayaan ABD belum maksimal. Seringkali setelah ABD terkumpul, tidak ada pemeliharaan data maupun proses lanjut. Permasalahan ini bisa diatasi dengan memasukkan satu (1) orang tim leger ke dalam tim PHO (Provisional Hand Over) dan FHO (Final Hand Over) agar ABD yang diserahkan dipelihara dan diproses lanjut.
  2. Data raster leger jalan dikonversi ke dalam bentuk vektor atau yang lebih dikenal dalam format CAD (Computer-Aided Design) dengan digitasi on screen selanjutnya leger jalan yang dalam sistem koordinat lokal ditransformasi ke dalam sistem proyeksi UTM WGS 1984. Kegiatan ini, sebaiknya diaplikasikan terhadap dua atau tiga ruas jalan, agar dapat dilihat hasilnya.
  3. Jika kegiatan no. 2 cukup baik, maka kegiatan tersebut perlu diaplikasilkan ke semua data leger jalan yang ada. Data vektor leger jalan dengan sistem proyeksi UTM WGS 1984 selanjutnya diserahkan ke masing-masing satuan kerja agar pemutakhiran data bisa secara kontinyu, dan setiap tahun pemutakhiran tersebut diserahkan ke Wahana Data Jalan Bandung.

 

    Dari solusi di atas diharapkan leger jalan dapat dimanfaatkan secara maksimal sebagai salah satu unsur dalam pemeliharaan jalan. Jika setiap penanganan jalan terekam baik dalam leger jalan, maka sejarah jalan bisa dijadikan acuan dari setiap permasalahan yang muncul di kemudian hari. Memang butuh kesadaran dan kemauan semua pemangku kepentingan di bidang jalan untuk mewujudkan tertib penyenggaraan jalan. Bukan hanya itu, kemampuan sumber daya manusia yang terampil (Men), dukungan finansial (Money), metode yang efektif dan efisien (Method), dan peralatan canggih (Machine) dibutuhkan menuju Wahana Data Jalan yang lengkap, akurat, mutakhir dan mudah untuk diwariskan bagi generasi penerus.

    Tanggapan Terhadap Rekomendasi The Indonesia Infrastructure Initiative (IndII)

    Pada tanggal 21 Februari 2011, pukul 17.00-18.30 dilakukan pertemuan antara Subbagian Leger Jalan Bagian Pengelolaan Barang Milik Negara Sekretariat Direktorat Jenderal Binamarga dengan tim IndII. The Indonesia Infrastructure Initiative atau prakarsa Infrastruktur Indonesia (IndII) adalah proyek tiga tahun yang didanai Pemerintah Australia. Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui kerja sama dengan Pemerintah Indonesia dalam rangka mempercepat kebijakan, perencanaan dan investasi di bidang infrastruktur. Tim IndII merekomendasikan agar metode yang digunakan pembuatan leger jalan menggunakan video yang diintegrasikan dengan GPS (Global Positioning System) sehingga setiap perekaman sudah berada dalam sistem koordinat lintang bujur WGS 1984.

    Menurut penulis, metode video yang direkomendasikan kurang sesuai dengan sasaran kegiatan leger jalan karena data video tidak mampu menggantikan pengukuran teristris untuk menghasilkan gambar situasi dan potongan, alinyemen vertikal dan memanjang. Padahal gambar-gambar inilah esensi dari leger jalan. Potongan dan alinyemen setiap 750 meter jalan bisa terepresentasi dengan baik dalam bentuk data vektor dan bisa dijadikan acuan oleh para design engineer dalam melakukan penanganan jalan. Metode video memang bisa menghasilkan model tiga dimensi (3D). Ingat hasilnya model 3D yang dihasilkan dari interpolasi dua (2) titik yang berdekatan, bukan dari hasil pengukuran di lapangan. Sedangkan yang dibutuhkan oleh para engineer adalah data teknik akurat bukan hasil interpolasi. Data video belum bisa menggantikan hasil pengukuran teristris di lapangan, tetapi data ini bisa sebagai pelengkap (supplementary) dari leger jalan. Dengan adanya video, setiap orang yang melihat leger jalan merasa terbantu dalam merepresentasikan potongan ruas jalan dimaksud. Dengan biaya pembuatan video USD 1000 per km agaknya perlu dipertimbangkan lagi pemakaian metode video ini jika dikaitkan dengan manfaat yang akan diperoleh. Bandingkan dengan biaya pembuatan leger jalan menggunakan metode teristris sebesar Rp. 8.000.000,00 per km namun bisa menggakomodir semua kebutuhan peta dan gambar dalam buku leger jalan.

    Penulis adalah seorang surveyor yang sekarang bekerja di  Subbag Leger Jalan – Bagian Pengelolaan BMN Ditjen Binamarga Kementerian Pekerjaan Umum, email : enda _pinem02@yahoo.com- CPNS 2009

    About these ads

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    Kategori

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    %d bloggers like this: